Rabu, 12 Mei 2010

Mitos Seputar Gempa

Ramalan Nama, MEMBACA opini Mulyadi Nurdin (MN) berjudul “Tafsir Gempa di Kitab Kuno” Serambi, (12/4/2010) sungguh meresahkan. Tulisan MN tersebut berpotensi menyuburkan kepercayaan kepada ramalan, tahayul dan khurafat di tengah masyarakat.

Saudara MN menyebutkan tafsir (tabir) gempa yang baru-baru ini terjadi di Aceh dengan kekuatan 7,2 skala richter (7/4/2010) bertepatan dengan bulan Rabiul Akhir, sesuai dengan ramalan dua kitab kuno yang tidak tertulis judul dan pengarangnya dan diklaim olehnya sudah berusia 300 tahun lebih.

Salah satu kitab tersebut menyingkap tabir gempa dengan tulisan, “Jika pada bulan Rabiul Akhir gempa pada ketika shubuh, alamat lapar padanya. Jika pada ketika Dhuha, alamat dianugerahi Allah ta’ala pada bumi itu padanya. Jika pada waktu dhuhur, alamat beroleh arti padanya, dan segala buah-buahanpun menjadi”.

Terlepas apakah MN percaya atau tidak, persoalannya adalah tulisan tersebut mengangkat isu tafsir gempa dengan menukilkan ramalan terhadap peristiwa yang akan terjadi pascagempa pada waktu tertentu. Sadar atau tidak, tulisan tersebut membahayakan aqidah. Menyingkap tabir seperti ini termasuk meramalkan perkara yang gaib, seperti meramalkan jodoh, rezeki, dan ajal yang marak terjadi dewasa ini. Bahkan, kapan terjadinya hari kiamat sudah diprediksi.

Tabir gempa dalam kitab kuno tersebut hanyalah mitos (khurafat) yang ditulis seorang peramal (al-’arraf) atau dukun (al-kahin), bukan ulama seperti yang diklaim oleh MN. Seorang ulama paham benar bahwa meramal hal-hal yang gaib adalah dosa besar dan bisa membawa kepada kekufuran. Perlu diketahui, tidak semua kitab kuno itu bisa diamalkan. Kitab yang bertentangan dengan aqidah dan syariat tentu tidak boleh dipedomani dan disebarkan luaskan. Para tukang ramal, tukang sihir, dukun juga menulis kitab, bahkan dengan bahasa Arab.

Sebagai orang yang beriman, tentu saja tabir mimpi yang disebutkan dalam kitab tersebut tidak dapat dipercaya. Persoalan gaib, hanya Allah-lah yang mengetahuinya sebagaimana firman Nya, “Katakanlah (hai Muhammad) tidak ada seorang pun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara gaib kecuali Allah saja.” (An-Naml: 65).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar